"Bangun Mas..." Gita mengguncang-guncang tubuh Nuref.
Nuref membuka mata. Diliriknya jam
dinding, masih seperti kemarin, jam
03.40. Ia segera bangkit dari tempat
tidur, mengambil handuk dan bersiap ke
kamar mandi. Tapi dilihatnya Gita
justru tertidur kembali.
"Duh. Kok malah tidur lagi sih?" Nuref
geleng-geleng ga ngerti. "Bangun,
Sayang. Sahur."
Gita menggeliat manja. "Gita kan
nungguin dibangunin sama Mas."
"Lah bukannya tadi udah bangun duluan?"
"Hooaammm..." Gita menguap lebar.
Kelelawar berterbangan dari dalamnya.
Aroma naga memenuhi seantero kamar.
Nuref menutup mulut.
Gita bangkit dari tidurnya. Duduk
ditepi ranjang. "Tadi aku bangunin Mas
supaya Mas bangunin aku. Kan biasanya
Mas yang bangunin aku. Yee.. Pura-pura
lupa nih..."
"Hadeh... Mending berantem aja yuk. Ga
usah sahur!"
"Kan? Dikit dikit ngambek. Ga dewasa.
Berubah dong, Mas. Temen-temennya Mas
aja udah pada berubah...
"Bisa ga sih ga usah banding-banding in
gitu?!" penggal Nuref dengan wajah
bete.
Gita tertunduk. "Tapi emang bener kok.
Exa sekarang udah berubah jadi alim.
Rio juga udah jadi caleg. Nah
Mas..." Mely mengangkat wajah, menatap
sendu suaminya. "Dari dulu ga pernah
berubah, selalu aja ganteng..."
"Ya Alloh! Pagi-pagi..." Nuref buang
muka menyembunyikan wajah sumringahnya.
"Aku juga heran sih, Mbal. Biasanya,
bayi-bayi itu kalo lahir langsung
nangis ya kan, Beb, kan? Lhah aku,
begitu dilahirkan langsung ganteng
masa?"
Gita meletin lidah ke arah Nuref. Nuref
ngakak berderai. Pagi yang dingin.
Namun tetap hangat.
*******
Sorenya. Selepas sholat ashar.
"Kita ga usah masak ya, Mas. Tadi temen
sekolahku nelpon, ngundang kita buka
bersama di restoran Istana Nelayan?"
kata Gita
sambil menyisir rambutnya di depan meja
rias.
"Ga usah deh. Ga penting juga," jawab
Nuref singkat.
"Kenapa sih? Sekalian silaturrahmi lho,
Mas."
"Silaturrahminy a ntar aja pas
lebaran."
Gita diam dengan muka menyungut. Ia
terlihat kecewa atas keputusan Nuref.
Sisir diletakannya dengan gerakan
serampangan.
Nuref mendekati Gita. Dipeluk istrinya
itu dari belakang. Terseyum geli
melihat wajah istrinya yang merengut di
cermin.
"Sayang merengut aja tetep manis. Ga
takut, kalo ikut buka bersama ntar
dimakan sama mereka?"
Ga ngaruh. Gita masih cemberut di
tempatnya.
Nuref melepas pelukannya. Diambilnya
sisir yang tadi dipakai Gita, kemudian
rambut istrinya disisirin hati-hati.
"Sayang.... Maaf, aku emang kurang suka
acara-acara seperti itu. Sering gara-
gara mengutamakan hal yang ga penting,
hal yang penting justu terabaikan.
Pernah lho Sayang, aku buka puasa
bareng di sebuah restoran gitu,
iuarannya mahal, menunya enak-enak,
makan sekenyangnya, habis makan masih
ngemil, sambil asik ngobrol-ngobrol,
hingga tau-tau udah adzan isya! Jadinya
sholat magrib terabaikan. Percuma kan
puasa, kalo seperti itu? Jadi ga usah
aja ya, Beb. Lagian aku ga punya duit."
Gita tersenyum kesal. "Dasar ih.
Ngomong ga punya duit aja pake muter-
muter."
"Mendingan sekarang kita masak. Masak
nasi aja. Sayur sahurnya kan masih ada,
tinggal dipanasin."
"Dibantuin kan, Mas?"
"Iya. Sayang bagian nyuci beras trus
masukin ke mejikom. Aku bagian nyolokin
listriknya."
Gita melirik tajam. "Ntar abis buka
puasa berantem ya. Catet!"
"Oke, oke. Aku goreng telur deh. Telur
mata sapi spesial buat Sayang. Mau?"
"Hehe.. Mau banget, Mas. Kalo bisa
telur mata sapinya yang tatapannya
lembut, trus ga juling."
Nuref garuk-garuk rambut. Kepalanya
tiba-tiba serasa banyak ketombenya.
"Kayaknya berantem beneran deh nanti
ini."
"Hehee. Yaudah, aku minta telur mata
hati saja."
"Kalo sambil ditemani Sayang, goreng
telurnya pasti nanti berbentuk hati."
Acara masak memasakpun berlangsung lama
dan ga manusiawi. Kebanyakan becandanya
sih. Sampai-sampai sayur sisa sahur
yang belum diangetin, panas sendiri
menyaksikan kemesraan mereka. Dan tanpa
terasa bedug buka puasa telah berbunyi.
"Alhamdulillah udah buka. Diawali
dengan yang manis-manis dulu ya, Mas."
ucap Gita sambil menuangkan es sirup
dan disodorkan segelas untuk suaminya.
"Bukan, Sayang. Yang benar tuh diawali
dengan do'a dulu."
"Terserah Masnya aja deh. Cape ngomong
sama tutup limun."
Nuref menengadahkan kedua tangan,
membaca do'a berbuka puasa. Sementara
Gita meng-Aamiin-kan perlahan.
Berdoa selesai. Tapi Nuref tak
menghiraukan es sirup di hadapannya. Ia
menoleh ke arah Gita, wajah istrinya
itu dipandanginya dengan lembut dan
cukup lama.
"Norak ih Mas," seru Gita tertunduk
malu-malu.
Nuref tertawa kecil. Kemudian meraih
gelas sirup dihadapannya dan diteguknya
hingga setengah. Baginya, semanis-
manisny a sirup buka puasa, tak akan
bisa menandingi manisnya wajah Gita.